PEREMPUANKU
oleh: MalaM



Perjalanan menuju kampung halamanku memang melelahkan. Apalagi untuk ukuran usiaku yang sudah menginjak empat puluh dua tahun. Untunglah Kijang tua ini mengerti bahwa aku sudah terlalu tua mengemudikannya untuk perjalanan jauh. Di sampingku, kulihat Siska masih asik dengan mimpinya. Sejak kunikahi tujuh belas tahun yang lalu, sifatnya tak banyak berubah. Dia selalu pandai menyemangati aku untuk berjuang menuntaskan pekerjaan dengan sabar dan telaten. Pesan untuk berhati-hati seringkali ia iringkan sesaat sebelum aku memunggunginya. Yah, ia memang tipe istri yang susah dicari gantinya, setidaknya bagiku. Selain setia, ia pun tak pernah memanfaatkan keindahannya untuk menekanku demi mendapatkan kesenangannya. Tak seperti Priska, istri temanku, Bambang. Priska memang berdarah indo dan mungkin itu pula yang memberi nilai tambah bagi kecantikannya. Aku diperkenalkan Bambang dengannya saat mereka mengadakan pesta ulang tahun Frans, anak pertama mereka. Di situ aku langsung mengagumi kecantikan Priska.
"Tak ada lagi alasanmu untuk mengeluh dalam hidup ini, Mbang", godaku pada Bambang.
"Ah, kamu bisa saja, Wan", balasnya sambil mengumbar senyum.
Sembilan bulan setelah peristiwa itu, aku menemukan kejanggalan pada Bambang. Ia tampak sering uring-uringan. Pekerjaannya banyak yang terbengkalai. Hampir tak ada hari tanpa kata makian darinya yang ditujukan entah untuk siapa. Hal yang selama ini belum pernah kutemukan dari Bambang. Awalnya aku menganggap dia sedang cekcok dengan istrinya dan itu adalah hal yang biasa. Namun semua menjadi jelas ketika sebulan kemudian Rudi, teman kami, melihat Priska berangkulan dengan seorang laki-laki memasuki sebuah hotel bintang dua. Tiga minggu kemudian kudengar mereka bercerai.
Aku memperlambat laju kendaraan. Hujan mulai turun. Kulirik istriku masih asik dengan lelapnya. Sesekali kubetulkan letak jilbabnya. Entah mengapa, sepertinya aku begitu takut kehilangan dia. Meskipun hanya metamatkan pendidikan di sekolah menengah kejuruan, namun ia seperti begitu memahami hidup. Aku menyesal karena tidak dapat mencarikan biaya untuk melanjutkan pendidikannya. Padahal dulu ia termasuk pelajar yang berpotensi. Itu kesimpulanku ketika secara tak sengaja melihat ijazahnya. Pernah aku menanyakan padanya tentang keinginannya untuk kuliah. Namun ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Sebagai seorang pegawai negara, gaji bulananku hanya cukup untuk membiayai kebutuhan yang penting-penting saja. Belum lagi ketiga orang anakku yang harus dibiayai. Kami sepakat bahwa mereka harus dapat mengecap bangku perkuliahan. Untuk itu, sejak pertama menikah, kami sudah mengumpulkan uang.
"Bang, Siska sudah senang, kok, dengan keadaan sekarang. Siska tidak ingin abang terlalu terbebani. O, ya, Bang, di lingkungan sini kan belum ada yang membuka warung, bagaimana kalau kita saja, Bang? Siska juga akan senang mempunyai kesibukan tambahan selama abang bekerja di kantor. Boleh, ya, Bang?" Pinta istriku saat kami sedang makan malam.
"Kalau Siska senang, ya, abang setuju saja. Tapi, apa kita sudah punya cukup uang untuk modal usaha?"
"InsyaAllah, Bang. Lagi pula Siska akan memulainya dengan menjual kebutuhan pokok dulu."
Aku sudah memasuki pusat kota kabupaten Bungo. Artinya, sebentar lagi aku akan sampai. Kembali kulirik istriku. Ia sedikit menggeliat, namun masih tetap pulas. Tiba-tiba ponselku berdering. Putra sulungku menelpon.
"Assalammualaikum. Ada apa, Ki?"
"Waalaikumussalam warahmatullah. Sudah sampai mana, Pa?" Ia balik bertanya.
"Bungo. Sebentar lagi insyaAllah sampai."
"Pa, om Ris meninggal."
"Hah! Innalillahi wainnailaihi rojiun. Kapan, Ki?"
"Satu jam yang lalu, Pa, di rumah sakit. Tapi sekarang jenazahnya sudah dibawa pulang. Oki sudah bilang bahwa papa dan mama lagi di kampung. Udah dulu, ya, Pa, Oki mau ke sebelah dulu. Assalammualaikum."
Aku menghempaskan nafas. Terbayang olehku sosok laki-laki putih semampai namun kurus. Aku langsung bisa menebak penyebab kematiannya, tekanan batin. Ia atasan sekaligus tetanggaku. Rumah kami berdekatan. Orangnya baik. Aku sering cemburu melihat keberuntungannya. Karirnya yang mulus semakin dilengkapi dengan hadirnya sosok istri yang berpendidikan tinggi. Kami resmi bertetangga menjelang istrinya mau melanjutkan studi pascasarjana. Peresmian rumah barunya di dekat rumahku dibuat meriah. Pesta itu sekaligus syukuran untuk istrinya yang akan melanjutkan pendidikan ketingkat magister. kebahagiaan tampak sekali di wajahnya.
Akan tetapi, ternyata kecemburuan itu tidak bertahan lama. Setelah istrinya menyelesaikan studi, babak baru dalam kehidupan mereka pun dimulai. Kalau dulu Ris hanya sering memanggilku ke ruangannya untuk urusan kantor, sekarang sudah bertambah dengan urusan rumah tangganya. Sebetulnya aku merasa risih untuk membicarakan itu. Posisiku sebagai bawahannya merupakan alasan utama. Namun akhirnya aku bisa juga untuk bersikap santai.
"Wan, aku tak tahan lagi menghadapi tingkahnya. Aku merasa semakin tidak dipedulikan. Dia semakin ngelunjak." Pias wajah Ris mengeluh padaku.
"Ris, barangkali dia ingin menunjukkan bahwa dia juga bisa sepertimu. Mungkin dia masih menikmati posisi barunya sebagai kepala bagian di kantornya." Aku sangat berhati-hati dalam berbicara, takut dia tersinggung.
"Wan, sekarang dia lebih sering pulang malam. Di rumah, pendapatku seolah tak di dengar lagi, emansipasi, katanya."
Ris menghisap rokoknya dalam-dalam, "katanya, dia juga ingin berarti di depan anak-anak. Tidak ingin seperti perempuan-perempuan lain yang hanya bisa bergantung kepada suami."
"Sebuah ironi, Wan. Di sini aku dihormati, tapi di rumah, ah, bahkan anak-anakku sudah mulai terpengaruh dengan dia, Wan. Rasanya aku lebih senang berlama-lama di sini dari pada di rumah, seperti neraka saja," keluhnya sambil menatapku.
Aku tak tega mendengarnya. Sebagai sesama laki-laki, aku dapat menyelami kepedihannya. Bagiku rumah adalah tempat terindah untuk memuarakan segala persoalan. Keluarga adalah penawar masalah yang menjangkiti hidupku. Aku setuju dengan anggapan orang tentang rumah ibarat surga. Di rumah, segala beban dan keputus-asaan dapat dinetralisasi.
"Aku tak tahu, Wan, entah sampai kapan aku dapat bertahan dalam keadaan ini." Dia kelihatan mulai putus asa.
"Jangan begitu, Ris. Setiap masalah ada jalan keluarnya. Bersabarlah. Aku mengerti perasaanmu. Tapi aku tak dapat berbuat banyak. Aku dan istriku juga tidak cukup dekat dengan istrimu. Hanya kamu yang paling kami kenal. Kudoakan semoga engkau dapat terbebas dari masalah ini."
Malamnya, kudengar kabar bahwa Ris masuk rumah sakit. Saat aku membesuknya ke sana, dia masih belum dapat menerima tamu. Kata dokter, darah tingginya kambuh. Esok harinya aku kembali ke rumah sakit. Beruntung dia sudah dapat ditemui. Lama sekali dia menatapku. Untung aku tidak sendiri. Aku bersama rekan-rekan sekantorku. Kehadiran kami sepertinya dapat menghiburnya. Aku senang melihat senyum di bibirnya yang pasi meskipun samar. Kami berusaha untuk tidak membahas hal-hal yang mungkin membuatnya sedih.
Aku dan istriku kembali lagi menemuinya bakda isya. Tepat di depan kamarnya, kulihat ke dalam melalui kaca bening di tengah atas pintu. Kulihat ia sendiri, tak tampak anggota keluarganya. Kuberanikan mengetuk pintu. Kami masuk. Ia tersenyum. Ia bercerita banyak hal malam itu, termasuk pertengkaran dengan istrinya yang membuat dia seperti sekarang.
"Kamu masih ingat kan, Wan, pembicaraan kita kemarin? Mungkin sebentar lagi aku akan benar-benar terbebas dari masalah ini."
Aku jadi risih. Aku menangkap nada pilu dari bahasanya. Sungguh aku tak tega mendengarnya.
"Kamu beruntung dapat istri seperti Siska. Meskipun tidak kuliah, tapi mampu membantumu mewujudkan surga impianmu."
Untung anaknya segera datang. Pembicaraan segera beralih ke topik lain. Cukup lama kami di sana. Sampai kami pulang, istrinya belum juga datang. Kata anaknya masih memantau persiapan untuk acara kantornya besok pagi.
Hujan telah mulai reda. Beberapa menit lagi aku sampai ke tujuan. Kembali kulirik istriku. Ia masih tidur. Entah apa yang sedang diimpikannya sekarang, aku tak tahu dan juga tak ingin tahu. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri. Tiba-tiba aku ingat ibu. Bagaimana kabarnya? Ah, sebentar lagi aku juga akan bertemu dengannya. Tapi, apakah ia masih tertekan dengan sikap bapak? Bapak memang tipe lelaki yang keras hati. Ia pantang ditentang. Apa yang dikatakannya, itulah peraturan. Ibu sering bercerita padaku tentang pengalamannya dengan bapak. Tapi ibu tak pernah berani mengeluarkan pendapatnya. Bapak gampang tersinggung, katanya. Memang, kalau bapak sudah uring-uringan, maka semuanya bisa kena imbasnya.
"Wan, kamu kalau sudah menikah nanti, pandai-pandailah dengan istrimu. Meskipun kami perempuan, tapi kami juga punya keinginan untuk berarti dalam rumah tangga. Kami juga punya harapan tentang penghargaan dan rumah tangga. Coba kalau dulu ibu tamat es-em-a, mungkin ibu akan jadi orang kantoran pula seperti bapak. Si Marni yang tamat es-em-a bisa kerja di kelurahaan. Bapakmu itu kan tidak sering pusing lagi dengan urusan duit karena ibu juga dapat duit," keluh ibu suatu kali saat aku masih kuliah.
"Eh, Bang, sudah hampir sampai, ya. O, habis hujan, ya." Istriku sudah bangun.
Aku hanya memberikan sebuah senyum untuk semua pertanyaannya. Kulirik dia. Ia asik memandang rumah dan pepohonan di kiri jalan. Tiba-tiba aku menjadi gelisah. Aneh, aku tak sanggup memandangnya lama-lama. Aku gugup. Kupalingkan tatapan ke depan. Aku takut suatu saat Siska menjadi asing bagiku, entah mengapa. Aku merasa ingin bercerita tentang semua pengalaman ini kepada siapa saja, tetapi bukan kepada Siska. Sial! Mengapa aku jadi seperti ini? Mengapa aku jadi berpikiran yang bukan-bukan tentang Siska? Bukankah aku telah lama mengenalnya, tapi kenapa sekarang aku menjadi…? Ah! Perasaan apa ini? Mengapa aku begitu khawatir kalau dia akan menjadi salah satu dari perempuan-perempuan itu? Aku harus bercerita! Harus!
Kutekan lagi pedal gas. Aku hanya memandang ke depan. Jauh, jauh sekali.


Tampilan Lengkap.....

KARYA YANG MENCERDASKAN
Oleh: Afriyendy Gusti, S.S.


Membicarakan karya sastra seperti cerpen, puisi, novel, dan novel merupakan pekerjaan yang tidak (akan) pernah selesai. Ini merupakan konsekuensi logis dari perjalanan karya sastra itu sendiri. Kritik akan terus ada selama karya sastra eksis sebagai salah satu anasir pembangunan sosial. Sebagaimana telah diketahui bahwa pembicaraan mengenai karya sastra sendiri telah berlangsung selama berabad-abad. Bahkan mungkin secara genesis pembicaraan tentang karya sastra telah terjadi sebelum karya itu ada, namun mungkin dengan penamaan yang berbeda.
Di Indonesia, sebelum hadirnya karya sastra modern, sastra daerah telah lebih dahulu memberikan kontribusi dalam pembangunan manusia. Produk-produk budaya sebagai hasil dari local genius, dianggap cukup mampu untuk menerangkan situasi pada masanya. Hal ini disebabkan karena anggapan bahwa karya sastra merupakan representasi peristiwa pada masa karya itu dibuat. Karya sastra merupakan cerminan realitas. Aspek imajinasi memang realitas sebuah karya, namun ia sangat berhubungan dengan sistem sosial yang ada. Kehadiran cerita rakyat, mitos, legenda, dan seni pertunjukan daerah dapat memberikan gambaran tentang perjalanan sebuah peradaban.
Kehadiran pengarang sebagai pencipta karya, merupakan satu entitas yang tidak akan bisa melepaskan diri dari sistem sosial. Rekayasa yang dilakukan pengarang tetap bertolak dan mempertimbangkan masyarakat, meskipun berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Nyoman Kutha Ratna (2004:329) menyatakan bahwa karya sastra mengandung aspek-aspek kultural, bukan individual. Masalah-masalah yang diceritakan adalah masalah-masalah masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, penelitian terhadap karya sastra pada dasarnya identik dengan meneliti seluruh aspek kehidupan sebagaimana diungkapkan melalui bahasanya masing-masing.
Di dalam karya sastra sendiri, minimal ada dua nilai yang dapat ditemukan yakni nilai estetika dan nilai sosial. Nilai estetika merupakan nilai keindahan baik dari segi kata-kata, pengaluran, dan sebagainya. Nilai estetika ini merupakan nilai dasar yang melekat pada karya sastra itu sendiri yang berasal dari istilah susastra yaitu kata-kata yang indah. Nilai sosial dapat ditemukan melalui pembacaan terhadap karya secara utuh. Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa nilai sosial adalah pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui sebuah karya. Nilai ini tentu berhubungan dengan dunia masyarakat. Secara implisit Culler (dalam Ratna:2004) menyebutkan bahwa lukisan melalui kata-kata tertentu akan menghasilkan dunia tertentu, ‘words’ akan menghasilkan ‘world’, sebagai dunia dalam kata. Sehubungan dengan nilai sosial di atas, melalui penokohan, pengaluran, dan latar dapat dibaca dunia seperti apa yang dilukiskan atau ingin ditawarkan dalam sebuah karya sastra.

Karya Sastra dan Kecerdasan
Salah satu pengertian kecerdasan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga adalah perbuatan mencerdaskan; kesempurnaan perkembangan akal budi. Kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar. Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain.
Sebagai makhluk sosial, individu membutuhkan individu-individu lain. Oleh karena itu akan terjadi interaksi antarindividu. Selama proses itu tetap berlangsung ada norma-norma yang berlaku. Norma-norma tersebut akan terkonvensikan menjadi sebuah peraturan baik secara tertulis ataupun tidak tertulis (stereotip). Pelanggaran terhadap norma tersebut akan berakibat pemberian sanksi. Persoalan inilah yang pada umumnya terdapat dalam sebuah karya sastra. Karya sastra sebagai salah satu produk literer yang memuat perilaku individu, masyarakat, dan lingkungan sarat dengan pesan-pesan moral tersebut.
Bagaimana cara karya sastra mencerdaskan? Sebagai produk literer, karya sastra dapat dinikmati dengan cara membacanya. Pembaca biasa tentu tidak akan mendapat nilai tambah selain kesenangan semata. Artinya, pembaca jenis ini tidak melakukan penelaahan terhadap teks. Kelompok ini hanya akan melihat teks sebagai teks, tanpa tendensi apapun. Pembaca yang lain adalah pembaca yang sekaligus memberikan apresiasi terhadap teks yang dibacanya, menghubungkan antara teks dengan konteks. Pembacaan yang mempertimbangkan fungsi kogsnisi, afeksi, dan psikomotor. Pembaca seperti inilah yang kelak berpeluang memperoleh eskalasi pada kecerdasan intelektual dan emosionalnya.
Sebagai homo saphien, manusia diidentikkan dengan fungsi pikiran yang merupakan kelebihannya dari makhluk lain; aku berpikir maka aku ada kata Rene Descartes. Pemanfaatan pikiran inilah yang sebenarnya diharapkan dalam pembacaan karya sastra. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan kerjasama dalam banyak hal termasuk dalam pengalaman. Kedua hal ini merupakan aspek dasar yang mesti dipunyai ketika melakukan pembacaan terhadap sebuah karya. Setiap individu mempunyai pengalaman yang cenderung berbeda dengan invidu lain. Konsekuensi logisnya adalah terjadinya perbedaan penafsiran dalam banyak hal, termasuk pada karya sastra. Akan tetapi, sebuah karya tak hendak menawarkan sebentuk penyeragaman. Karya sastra lebih cenderung memaparkan sebuah opini yang muaranya adalah pembaca.
Setiap individu biasanya hidup dengan berpegangan dengan kebenarannya masing-masing. Untuk itu, diperlukan sebuah media kontrol agar kebenaran individu tersebut tidak berbenturan dengan kebenaran yang dipercayai oleh individu lain. Diperlukan kesepakatan bersama yang bersifat mutualisme. Di sinilah sesungguhnya salah satu peranan karya sastra. Karya sastra bukanlah sebuah lembaga penghakiman salah dan benar ataupun baik dan buruk, namun semuanya dikembalikan kepada pembaca. Di sinilah kecerdasan pembaca berperanan. Artinya, pembaca bukan lagi sebagai objek, tapi sudah berubah menjadi subjek.
Kedudukan pembaca sebagai apresiator ini berhubungan erat dengan kecerdasan intelektual dan emosional. Kecerdasan intelektual berguna untuk memahami karya sastra seperti pada aplikasi teori-teori pembahahasan karya sastra sedangkan kecerdasan emosional berguna untuk menanggapi ide-ide yang terdapat dalam karya tersebut dengan mempertimbangkan nilai-nilai dan sistim sosial yang berlaku. Dengan kata lain, pembacaan terhadap sebuah karya sastra tidak dapat dilakukan dengan baik apabila pembaca belum memiliki dua kecerdasan tersebut.
Dengan demikian, karya sastra hadir tidak hanya menawarkan sebuah pengalaman kepada pembaca, namun ia berfungsi untuk merangsang kecerdasan intelektual di satu sisi dan kecerdasan emosional pada sisi yang lain. Setelah itu, baru didapatkan peranan karya sastra sebagai karya yang memiliki fungsi dulce et utile.




Tampilan Lengkap.....

Pahlawanku Sayang Pahlawanku Malang
Sebuah catatan dari pementasan “Monumen”
Oleh: Afriyendy Gusti, S.S.

Ternyata, pahlawan bukan lagi sosok yang mampu mewariskan semangat melanjutkan perjuangan, namun telah terdegradasi menjadi sebuah artefak yang memiliki nilai ekonomi. Selanjutnya, bila nilai ekonominya tersebut tak dapat lagi bersaing dengan komoditi yang lain, maka maaf-maaf saja jika pahlawan pun tak luput dari konsekuensi pembangunan, penggusuran. Barangkali, kita mesti merumuskan kembali defenisi pahlawan. Demikian salah satu pesan yang dapat ditangkap dari pementasan “Monumen” oleh teater AiR pada Sabtu malam, 13 Mei yang lalu.
Indra Tranggono, penulis naskah ini seolah berasumsi bahwa tangis tak lagi cukup untuk mengungkap kesedihan yang teramat dalam. Kesedihan terdalam mungkin masih dapat diungkapkan dengan menertawakan diri sendiri dengan segala ketidakberdayaan untuk mempertahankan nilai-nilai ideal dari sebuah kepahlawanan. Hal itu terlihat dari dialog-dialog yang cenderung berbau komedi, namun sesungguhnya mengungkap luka yang teramat satir. Semangat kepahlawanan yang disimbolkan dengan kehadiran sebuah monumen, lebih merupakan sebuah presentasi kebanggaan yang rapuh. Bangga karena di daerah tersebut juga melahirkan tokoh-tokoh yang dengan gagah dan berani berjuang untuk kemerdekaan sehingga tidak tertinggal dengan daerah-daerah lain, namun rapuh karena tidak lagi diikuti oleh etos filosofis pendirian monumen tersebut.

Beragam Kepentingan
Di dalam pementasan yang berdurasi lebih kurang sembilan puluh menit itu, nyata sekali bahwa segala lakon yang muncul membawa kepentingannya masing-masing. Ada tokoh yang menyakralkan monumen tersebut untuk kepentingan mencari popularitas dan uang. Secara simultan, lokasi tempat monumen tersebut didirikan juga menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dengan segala urusan, mulai dari copet sampai tempat pacaran. Hal yang lebih menyedihkan adalah dengan onggokan sampah yang berada pada sisi kiri monumen, dekat sekali. Ironis sekali, pada satu sisi bernuansa sanjungan dan kebanggaan, pada sisi yang lain bermakna tak berguna atau ampas.
Di pertengahan cerita, masuk tokoh baru yang ingin menjadikan monumen tersebut sebagai aset wisata unggulan. Dasar pikirannya sederhana, memperkenalkan sejarah kepahwanan di daerah tersebut kepada turis. Dengan demikian, akan didapatkan dua keuntungan sekaligus, yakni menambah inkam dan sekaligus mengangkat wibawa daerah karena menghargai pahlawan. Untuk itu, monumen harus dipugar karena status pahlawan harus dinaikkan dulu dari pahlawan lokal menjadi pahlawan nasional. Akan tetapi, lagi-lagi masalahnya adalah nilai jual. Dari lima patung pahlawan yang ada, yakni patung Cempluk, Durmo, Ratri, Sidik, dan Wibagso, hanya dua yang dapat dipertahankan. Tiga tokoh lain tidak lolos seleksi sebagai pahlawan nasional untuk monumen berikutnya.
Pada bagian akhir, masuk tokoh kepala kota praja yang baru. Visi dan kepentingannya pun ikut berubah. Monumen yang sebelumnya direncanakan untuk objek wisata kini direncanakan sebagai tempat untuk mendirikan mall. Keuntungan pribadi yang menggiurkan menjadi alasan utama untuk memberikan izin. Akhirnya, monumen pun digusur. Tidak tanggung-tanggung, monumen tersebut digusur dengan menggunakan buldozer. Serpihan patung pahlawan seolah menyatu dengan onggokan sampah di sebelahnya. Untung saja di monumen tersebut tidak terdapat tulisan ‘Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Mampu Menghargai Jasa Para Pahlawannya’.



Beristirahat dalam Damai (?)
Barangkali harapan ini hanya tinggal harapan. Jasad lima pahlawan pada monumen tersebut ternyata berontak. Untung saja manusia tidak mempunyai kemampuan mengetahui kehidupan arwah sehingga bisa dengan leluasa (tanpa merasa berdosa) berbuat semaunya terhadap semua yang tidak bernyawa.
Namun tidak demikian dalam pementasan malam itu, roh para pahlawan ternyata tidak dapat menerima perlakuan tersebut. Mereka kecewa, sakit hati, dan marah dengan kenyataan yang mereka dapatkan. Monumen tersebut ternyata tak murni lagi untuk mengenang jasa mereka, namun tak lebih dari sebuah legitimasi prestise dan kepentingan orang-orang yang masih hidup. Perjuangan mereka untuk kemerdekaan ternyata telah dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Persoalan yang lebih mengharukan adalah dengan adanya dikotomi pahlawan lokal dan nasional. Bukankah semuanya berperang untuk satu tujuan, kemerdekaan?
Akan tetapi, arwah tetaplah arwah. Jerit pilu mereka tetap tidak mampu ditangkap oleh manusia. Dunia adalah milik makhluk hidup (manusia). Jadi, apapun yang mereka lakukan, ya, sah-sah saja. “Persoalannya mungkin terletak dari sudut pandang manusia itu sendiri bagaimana cara memaknai hidup. Toh, mereka akan menjadi arwah juga”, kata seorang kawan.

Segenggam Asa
Secara keseluruhan pementasan ini telah mampu menunjukkan kelasnya sendiri dengan keberhasilannya menyampaikan pesan kepada penonton. Animo penonton yang memadati gedung pertunjukan juga menjadi bukti bahwa pementasan ini mendapatkan nilai sukses. Meskipun masih terdapat beberapa persoalan teknis yang agak menggangu selama pementasan berlangsung. Dialog beberapa tokoh yang kurang terdengar membuat naskah tidak tereksploitasi secara maksimal. Durasi pertunjukan yang relatif panjang juga cukup melelahkan. Namun pemain mampu menyelesaikannya dengan baik. Sayangnya, ekplorasi dan improvisasi terhadap panggung terasa kurang maksimal. Hal ini terlihat dari ada beberapa sisi panggung yang tidak terjamah pemain dan beberapa properti di atas panggung yang tidak dimanfaatkan sehingga cenderung menjadi properti mati.
Terlepas dari persoalan teknis di atas, pesan filosofis dari pementasan tersebut tetap memberikan daya pikat yang kuat. Merujuk kepada apa yang telah dituliskan oleh Milan Kundera, “Bangsa yang kehilangan kesadaran akan masa lalunya perlahan-lahan akan kehilangan dirinya. Begitulah, situasi politik dengan kejamnya telah menjelaskan masalah lupa metafisik biasa yang kita hadapi sepanjang waktu, setiap hari, tanpa sedikit pun memerhatikannya. Politik membuka metafisika kedok kehidupan pribadi, kehidupan pribadi membuka kedok metafisika politik”, sepertinya pementasan tersebut ingin mengingatkan kembali kepada kita semua untuk berhati-hati dengan satu penyakit yang mulai mewabah, melupakan sejarah. sedemikian pentingnya persoalan ini, Bung Karno pun pernah berpesan tentang Jasmerah; jangan sekali-kali melupakan sejarah. Politisasi sejarah juga akan berujung pada sebuah akhir yang tragis.
Pada akhirnya, terdapat nilai-nilai yang baik untuk dipikirkan kembali setelah menyaksikan pementasan ‘Monumen’ yang disutradarai oleh E.M. Yogiswara ini. Sejarah. Kepentingan pribadi dan segelintir orang yang tidak bertanggung jawab telah menjadikan tatanan yang demikian baik menjadi rumit. Persoalannya, apakah kita benar-benar hidup ataukah hanya jasad yang berjalan. Tanya kenapa?


Tampilan Lengkap.....

Sanggar Sastra Siswa
Oleh: Afriyendy Gusti


Salah satu pengertian ‘sanggar’ di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tempat untuk kegiatan seni. Dengan kata lain, istilah sanggar juga dapat diartikan sebagai sebuah tempat untuk berkesenian, baik untuk seni lukis, seni tari, seni musik, maupun seni pertunjukkan. Di dalam sanggar individu-individu melakukan interaksi secara berkesinambungan mulai dari hanya sekadar berwacana, beradu argumen, sampai pada implementasi sintesis yang telah disepakati.
Beberapa tahun belakangan, seiring dengan semakin dikenalnya dunia sastra di masyarakat, hadir pula sebuah wadah bersastra beberapa individu yang disebut dengan sanggar sastra. Jika merujuk kepada defenisi sanggar di atas, sanggar sastra dapat diartikan sebagai sebuah tempat untuk bersastra, baik untuk mengapresiasi ataupun memroduksi karya sastra. Akan tetapi, biasanya sebuah sanggar sastra lebih memilih untuk melakukan keduanya.

Hubungan Sanggar Sastra dengan Sekolah dan Siswa
Sekolah sebagai lembaga resmi yang dibentuk oleh pemerintah untuk melakukan proses pendidikan dan pengajaran memiliki fungsi strategis dalam pembinaan sanggar sastra. Selain memediasi praktisi sastra dan/atau sastrawan dengan siswa, sekolah juga mengorganisasikan siswa pecinta sastra untuk berkreatifitas dalam sebuah sanggar sastra. Pelaksanaan terhadap fungsi tersebut, selain membantu guru Bahasa Indonesia memberikan pengetahuan kesastraan terhadap siswa, sekolah juga telah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan dirinya dalam dunia sastra. Dengan demikian, pemasyarakatan sastra terhadap generasi muda akan lebih mudah dilakukan.
Sementara itu, siswa sebagai sivitas sekolah yang pada masanya akan menjadi tulang punggung bangsa diharapkan dapat tumbuh dengan memiliki segenap kecerdasan yang berimbang, baik cerdas secara intelektual, spritual, emosial, sekaligus peka terhadap gejala sosial. Karya sastra pada umumnya lahir sebagai reaksi atas realitas di masyarakat (mimesis). Pada dasarnya, setiap orang memiliki kemampuan untuk mengapresiasi realitas, tetapi tidak setiap orang mampu untuk mengimplementasikan apresiasi tersebut melalui tulisan. Padahal, tulisan merupakan salah satu media terbaik untuk merekam peristiwa. Bagian inilah yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa yang tergabung ke dalam sanggar sastra. Dengan program-program positif yang disusun oleh anggota sanggar, diharapkan siswa mampu memroduksi karya-karya sastra yang baik, karya yang merupakan hasil dari apresiasi, kontemplasi, dan imajinasi siswa secara mandiri.
Selain meningkatkan pengalaman bersastra siswa, keberadaan sanggar sastra di sekolah secara tidak langsung juga (diharapkan) mengurangi tingkat kenakalan remaja (siswa). Kecenderungan remaja untuk menojolkan dan membuktikan eksistensi secara individu maupun berkelompok dapat diarahkan pada kegiatan yang positif. Dengan komunikasi yang berkelanjutan, pengaruh negatif (seperti narkoba, kelompok liar (gank), budaya konsumtif) yang rentan menjerumuskan remaja dapat diantisipasi. Sekali waktu siswa pun dapat diajak mendiskusikan tontonan/hiburan di layar televisi yang menurut beberapa pengamat cenderung menawarkan pola hidup konsumtif ala kapitalisme(?).


Karya Sastra
Menurut Budi Darma, di antara tiga kategori ilmu pengetahuan, yakni humaniora, eksakta, dan sosial, ilmu humaniora adalah yang paling tua. Sesuai dengan namanya, humaniora, yaitu ilmu-ilmu yang berusaha memanusiakan manusia dan menjadikan manusia berbudaya. Sastra, bahasa, dan agama merupakan cabang ilmu yang termasuk ke dalam ilmu humaniora. Menurut konsep Barat, sastra berasal dari litera (huruf), sedangkan menurut konsep Timur yang awalnya datang dari peradaban India Kuno, sastra berasal dari su-sastra, yaitu tulisan yang baik dengan tujuan yang baik pula. Dengan demikian, sastra diciptakan dengan bahasa yang baik dan mengandung tujuan yang baik pula. (Darma: 2004)
Ada tiga genre sastra yang dikenal secara luas, yakni puisi, drama, dan cerita rekaan. Ketiga genre ini memiliki bagian-bagian tersendiri pula. Pada puisi dikenal juga istilah sajak, gurindam, syair, pantun, dan seterusnya. Pada drama muncul teater, monolog, opera, dan seterusnya. Pada cerita rekaan, termasuk di dalamnya cerita pendek, novel, roman, dan seterusnya. Meskipun memiliki spesifikasi yang berbeda, namun menurut Horatius, di dalam karya sastra tetap mengandung dua unsur, yakni dulce et utile (nikmat dan manfaat). Selain memiliki alur dan gaya bahasa yang memikat, karya sastra juga harus bermanfaat terhadap pembacanya.

Merencanakan Sanggar Sastra
Keberadaan sebuah sanggar sastra pada prinsipnya sama dengan keberadaan program-program kreatif lainnya yang terdapat di sekolah seperti pramuka dan sispala. Hal utama adalahkemauan yang kuat dari pembuat kebijakan di sekolah termasuk di sini adalah guru Bahasa Indonesia dan/atau guru Kesenian. Siswa masih merupakan pihak yang perlu didorong dan semangati untuk dibina. Untuk pengembangannya dapat bekerja sama dengan pihak dari luar sekolah seperti seniman, sastrawan, ataupun lembaga-lembaga pemerintah/swasta yang memiliki kompetensi akan hal ini. Pada akhirnya tugas pendidikan diharapkan bukan hanya menjadi beban guru dan sekolah sebagai institusinya, melainkan menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Semoga dengan keberadaan sanggar siswa di sekolah dapat memunculkan siswa yang intelektual, kreatif, dan berbudaya seperti apa yang dipercayai Gothe bahwa sastra merupakan dunia pemikiran. Dengan demikian, mempelajari dunia sastra dapat dikatakan sebagai pengajaran mengenai akal budi atau pemikiran (Darma: 2004).



Tampilan Lengkap.....